Outlaw SkateboardsOutlaw Skateboards
  • COLLABORATION
    • GxUxTxS
    • MATERNAL DISASTER
  • SHOP
    • SKATEBOARDS
      • DECK
    • APPAREL
      • T-SHIRTS
      • JACKETS
      • SWEATSHIRTS
    • BAGS
    • HEADWEAR
      • BEANIE
      • HAT
    • ACCESSORIES
      • MISC
      • SOCKS
      • PINS
  • TEAM
  • WHERE TO BUY
  • ADS
  • NEWS
  • CONTACT

MUNTAH : MANUFACTURING GIRL POWER

  • Muntah, News
  • July 11, 2026
muntah - template web pic_landscape copy

Apa yang ada di pikiranmu ketika melihat perempuan bermain skateboard?

Keren? Berani? Atau biasa saja?

Mungkin jawaban kita berbeda-beda. Namun bagi korporasi, perempuan yang bermain skateboard tidak selalu dilihat sebagai individu yang berani menembus ruang yang selama ini dianggap maskulin. Perempuan juga dapat dilihat sebagai potensi pasar, perhatian publik, dan peluang keuntungan.

Pikiran itu muncul ketika aku melihat sebuah video perayaan Skateboarding Day yang disponsori oleh industri rokok. Dalam video tersebut, sejumlah perempuan membawa skateboard sambil menatap kamera. Mereka disebut sebagai Besbi. Kamera merekam wajah mereka secara close-up, menampilkan ekspresi, penampilan, dan gaya berpakaian yang telah disesuaikan dengan identitas merek. Mereka memang memegang skateboard, tetapi hampir tidak ada kemampuan bermain skateboard yang ditampilkan.

Lalu, muncul pertanyaan dibenakku,

Apa sebenarnya yang ingin ditunjukkan oleh industri rokok ini melalui kehadiran perempuan yang membawa skateboard?

Sekilas, tidak ada yang tampak bermasalah. Kehadiran perempuan dalam ruang skateboard bahkan dapat dibaca sebagai tanda keterlibatan yang lebih setara dalam sebuah kultur yang selama ini sering dianggap maskulin. Namun persoalannya bukan sekadar tentang ada atau tidaknya perempuan di dalam ruang tersebut.

Lalu, mengapa kamera lebih tertarik pada wajah dan tubuh mereka dibandingkan kemampuan mereka sebagai skater?

Ketika kamera lebih sering menyorot wajah dibanding trick, ketika penampilan lebih diutamakan daripada keterampilan, dan ketika tubuh perempuan menjadi pusat perhatian visual, maka kita perlu mempertimbangkan kemungkinan bahwa yang sedang bekerja bukan semata-mata semangat inklusivitas. Ada logika lain yang ikut beroperasi, yaitu logika pasar.

Dalam banyak iklan dan kampanye promosi, perempuan kerap direpresentasikan bukan sebagai pelaku utama, melainkan sebagai daya tarik visual yang membantu menjual produk, citra, atau gaya hidup tertentu. Kehadiran mereka berfungsi untuk menarik perhatian audiens sekaligus membangun kedekatan emosional dengan merek. Pada titik ini, skateboard tidak lagi menjadi fokus utama. Ia berubah menjadi properti yang menempel pada tubuh yang dianggap menarik untuk dilihat.

Di sinilah persoalannya menjadi lebih luas dari sekadar representasi perempuan.

Skateboard lahir dan berkembang sebagai bagian dari kultur alternatif. Ia tumbuh dari praktik merebut ruang kota, menolak keteraturan yang kaku, dan menciptakan bentuk kebebasan di luar institusi resmi. Namun sejarah juga menunjukkan bahwa tidak ada budaya yang sepenuhnya kebal terhadap pasar. Kapitalisme memiliki kemampuan luar biasa untuk menyerap simbol-simbol yang awalnya lahir sebagai bentuk perlawanan, lalu mengemasnya kembali menjadi komoditas.

Apa yang dulu menjadi simbol kebebasan dapat berubah menjadi identitas merek. Apa yang dulu menjadi ekspresi kolektif dapat berubah menjadi strategi pemasaran. Bahkan kritik terhadap sistem pun dapat diserap dan dijual kembali sebagai gaya hidup.

Tubuh perempuan dan skateboard pun bekerja secara bersamaan sebagai simbol yang menguntungkan korporasi. Skateboard membawa citra kebebasan, kreativitas, dan keberanian. Sementara perempuan menghadirkan daya tarik visual yang efektif untuk mengundang perhatian publik. Ketika keduanya dipadukan, lahirlah sebuah citra yang tampak progresif, inklusif, dan relevan untuk saat ini.

Namun citra tersebut patut dipertanyakan ketika kemampuan perempuan sebagai skater justru tidak menjadi pusat narasi. Sebab representasi yang hanya menonjolkan penampilan berisiko mereduksi perempuan menjadi instrumen pemasaran, bukan subjek yang diakui keterampilannya bermain skate dan agensinya.

Situasi ini juga menjadi pertanyaan bagi komunitas skateboard itu sendiri. Sejauh mana ruang yang tersedia benar-benar aman dan setara bagi perempuan? Dan sejauh mana kita, sebagai bagian dari kultur skate, tanpa sadar ikut mereproduksi cara pandang yang lebih menghargai penampilan dibanding kemampuan?

Pada akhirnya, kritik ini bukan hanya ditujukan kepada industri rokok atau korporasi tertentu. Kritik ini juga ditujukan kepada kita sebagai penonton, konsumen, dan pelaku kultur.

Untuk apa roda skateboard itu melaju?

Apakah kita sedang merayakan kebebasan?

Ataukah kita hanya sedang mengonsumsi versi kebebasan yang telah dikemas, diberi logo, dan dijual kembali kepada kita?

By: Cakarkuning


Previous articleSPEAK OUT VIDEO NOW ON YOUTUBE CHANNEL!

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Categories

  • Art (15)
  • Collaboration (2)
  • Essay (3)
  • Event (9)
  • Gigs (5)
  • Interview (3)
  • Muntah (12)
  • Music (4)
  • News (48)
  • Others (18)
  • Review (1)
  • Skateshop (2)
  • Video (9)

Tags

Art Article artwork Bangkawarah Bloodbath Bowl Jam Circle Power Collaboration Consumed coratcoret Essay Etaks Store Fanzine Forever Outlaw Grimloc Records Guts GxUxTxS Hardcore/Punk HC/Punk Information Interview Logo Magazine Muntah Music Ogrok Outlaw Forever Outlaw Skateboards Point Skateshop Push and Roast Razor13 Review Skateboarding Skatecore Skatepiracy Skateshop Skate video Slowshutter Tattoo Timtimebroy Trashcore Type Unbaptised Zine Vast Store Video
©2026 Outlaw Skateboards.

Cart