MUNTAH : SKATE LOUDER THAN YOU DRESS!
- Muntah, News
- December 6, 2025
Sejak tahun 2000-an, Kita mengalami ledakan jumlah brand clothing lokal yang hadir di berbagai kota, mereka lahir dari lingkungan independen hingga yang tumbuh menjadi besar dengan pola distribusi yang masif. Fenomena ini tidak hanya menunjukkan semangat kreatifitas, tetapi juga mencerminkan dinamika dalam bagaimana masyarakat dalam mencari identitas, ekspresi, dan ruang ekonomi baru.
Pada awalnya, brand clothing lokal banyak berakar pada komunitas subkultur, Subkultur dalam konteks disini dapat merujuk pada komunitas skateboard, punk, hip-hop, dan lain-lain. Sejatinya, brand seperti ini tidak sekadar menjual pakaian, tetapi menawarkan narasi, estetika, dan afiliasi emosional. Kaos dengan grafis yang berani, penuh slogan, hingga visual yang lahir dari kreativitas produksinya menjadi medium untuk mengekspresikan sikap. Pembeli pun membeli bukan hanya produk, tetapi juga “rasa memiliki” terhadap sebuah komunitas atau pandangan.
Menjamurnya brand clothing adalah fenomena yang ambivalen. Di satu sisi, ia membuktikan bahwa industri kreatif dapat hidup, dinamis, dan memberi ruang bagi banyak anak muda untuk berekspresi secara mandi. Disisi lain, hal ini seakan memberikan tantangan ke depan bukan hanya soal kemampuan desain atau pemasaran, tetapi soal keberanian brand untuk mempertahankan ekosistem di tengah meledaknya jumlah brand clothing.
Skateboard sebagai salah satu subkultur selalu memiliki tempat istimewa dalam lanskap clothing brand. Seiring meledaknya jumlah clothing brand, kita dapat menemukan clothing brand yang memberikan dukungan terhadap lingkungan skateboard baik secara komunitas ataupun individu yang muncul bukan hanya sebagai bumbu pelengkap, tetapi sebagai pola ekosistem. Pola ekosistem yand dimaksud disini adalah pola supportif antara clothing brand terhadap komunitas skateboard baik secara individu dengan memiliki rider baik secara sponsor ataupun flow, atau terhadap komunitas skateboard secara umum dengan mendukung kegiatan-kegiatan komunitas.
Pada dasarnya, ekosistem suportif antara clothing brand dan para skater adalah hubungan timbal balik. Brand ingin mendapatkan kredibilitas melalui skater, sementara para skater membutuhkan dukungan dan legitimasi untuk melanjutkan aktivitas mereka. Biasanya, sponsorship bisa berupa pemberian kaos, hoodie, atau merchandise. Namun pada skala lebih besar, beberapa brand menyediakan honor, mendukung tur skate, memproduksi video, dan menginisiasi kegiatan komunitas skateboard.
Namun, ekosistem supportif tersebut terkadang tidak berjalan dengan lancar, sponsorship clothing brand terhadap skate adalah hubungan yang saling menghidupi selama kedua pihak menjaga nilai dasar solidaritas, konsistensi, transparan, dan jujur. Hubungan clothing brand yang terjadi di lapangan terkadang didasari atas hubungan transaksional brand terhadap skater, dimana brand hanya menginginkan nilai eksposure untuk clothing brandnya melalui skater tersebut, hal tersebut menjadi salah satu gerbang utama kegagalan hubungan antara satu brand clothing dengan skater.
Menjadi masuk akal ketika para skater sejatinya lebih mudah atau mau menerima clothing brand yang terlabeli “Skater Owned”, skater owned adalah label yang disematkan terhadap sebuah clothing brand yang diinisiasi atau dijalankan oleh individu-individu yang berada dalam lingkaran skateboard. Hal ini juga memudahkan para skater dan pemilik brand mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan para skater dan hubungan yang terjalin bukanlah hubungan transaksional layaknya bos dan karyawan.
Hubungan transaksional yang muncul antara brand clothing dengan para skater justru terkadang menjadi gerbang permasalahan, munculnya ketidakpahaman antar dua belah pihak, ketidaktahuan keinginan dua belah pihak, visi yang menganggap semua bisa diselesaikan dengan uang, dan yang lebih parah menjual komunitas untuk eksposure sebuah brand yang tidak ada hubungannya dengan skateboard. Hal-hal tersebut adalah akar dari permasalahan yang menjadi bom waktu di kemudian hari.
Lalu sejatinya apa yang seorang skate butuhkan? Apakah sejatinya seorang skater membutuhkan pundi-pundi kekayaan yang dinamai “uang”? ya, tentu seorang skater membutuhkan uang, bukan hanya skater bahkan semua umat manusia rasanya membutuhkan uang untuk hidup dalam sistem ini, namun dalam konteks skateboard, sejatinya seorang skater dirasa lebih membutuhkan dukungan yang benar-benar mendukungnya dalam skateboarding, yaitu papan skateboard! Papan skateboard dan equipment skateboard adalah penunjang pertama yang dibutuhkan oleh para skater. Ini menjadi sesuatu yang membingungkan ketika brand clothing benar-benar menjamur dengan masif, brand clothing berlomba-lomba membentuk dukungan terhadap skater, terhadap komunitas skateboard. Lalu pernahkan muncul pertanyaan dalam benak kita “Mengapa kalian tidak membentuk brand skateboard saja?”
Clothing brand yang menjamur dimana-mana, berlomba-lomba membentuk dukungan terhadap skater atau komunitas skateboard, mulai dari memberikan apparel, hingga menyediakan honor, hal ini adalah hal yang baik, mendukung individu dan komunitas bertumbuh, tetapi sesungguhnya jika perihal ini mengenai support terhadap skateboard, mengapa brand-brand clothing ini tidak berusaha mencoba untuk menyentuh ranah papan skateboard dan equipmentnya? bukankah itu adalah hal utama yang seorang skater butuhkan?
Tak bisa terelakan juga kehadiran-kehadiran clothing brand dan media yang “into skate” atau memiliki ketertarikan terhadap scene skateboard, kehadiran-kehadiran tersebut semata-mata mendukung skateboard bukan hanya dengan memiliki rider, tapi juga benar-benar membangun komunitas dan ekosistem dukungan terhadap komunitas skateboard, membuat skateboard equipment, berkolaborasi dengan brand skateboard, membuat video, menginisiasi atau mendukung kegiatan. Bentuk dukungan seperti itu adalah bentuk dukungan yang dibutuhkan oleh skater, karena dengan berjalannya bentuk ekosistem dukungan seperti itu, scene atau komunitas skateboard akan terus berjalan dan tetap hidup.