MUNTAH : ANYWHERE, EVERYWHERE, SKATE!
- Muntah, News
- May 3, 2026
“Skateboarding bukanlah hobi dan juga bukan olahraga. Skateboarding adalah cara untuk belajar mendefinisikan ulang dunia di sekitarmu. Ini adalah cara untuk keluar dari rumah, terhubung dengan orang lain, dan melihat dunia melalui sudut pandang yang berbeda.”
– Ian MacKaye (Skateboarder, Minor Threat)
Meskipun saya sudah sangat jarang menyentuh papan skateboard saya yang kini tergeletak di pojokan kamar kontrakan dan menggunakannya layaknya beberapa tahun lalu yang rasanya aneh jika sehari saja tidak bermain skateboard, saya masih senang menyempatkan waktu untuk menonton video-video skateboard yang muncul dikanal media skateboard secara daring setiap hari. Tak sengaja saya kembali dimunculkan oleh algoritma youtube video-video yang menampilkan beberapa orang yang mudah dikenal bagi individu-individu yang suka “ngulik” orang-orang yang berada di dunia skateboard itu sendiri.
Waktu “menganggur” saya tersebut berlabuh pada sebuah video seorang frontman band straight edge yang sudah sangat dikenal dikalangan musik dengan tempo cepat, ialah Ian MacKaye yang dapat kita kenali dari karya-karyanya pada band bernama Straight Edge atau Fugazi, mengelola label rekaman dengan nama Dischord Records dan juga yang tak kalah penting ia adalah seorang skateboarder. Dalam video yang diketahui dipublikasikan oleh Library of Congres tersebut, Ian menyebutkan beberapa hal yang membuat saya merenungi kembali perihal bagaimana berbagai filosofi yang ada pada papan beroda ini.
“Bagi kebanyakan orang, ketika mereka melihat kolam renang mereka akan berpikir ‘ayo berenang’ tapi saya akan berpikir ‘ayo kita mainin itu, kita manfaatkan transisinya saat di bagian bawah’. Ketika mereka melihat trotoar atau jalanan, mungkin mereka berpikir ‘ayo kita lewati dengan kendaraan’ tapi saya justru memikirkan teksturnya. Dan perlahan, saya aku mengembangkan kemampuan untuk melihat dunia dengan cara yang benar-benar berbeda.” – Ian MacKaye (Skateboarder, Minor Threat)
Hal tersebut meyakinkan saya, bahwa skateboard adalah sesuatu yang unik, kalian bisa mencoba skateboard dimana saja, bahkan tidak perlu harus berada di skatepark untuk bisa bermain skateboard, bagi para skateboarder hal-hal yang tampak “biasa” dijalanan layaknya sebuah trotoar, tiang parkir yang bengkok, tangga, atau bahkan hanya sebuah turunan! Bisa menjadi kanvas yang siap untuk diisi kaki-kaki terampil dan kreatif.
Selain sebagai simbol kebebasan yang digembar-gemborkan para skateboarder, skateboard menjadi jalan membuka untuk untuk memandang dunia yang baru, tidak ada salahnya untuk memilih bermain di skatepark atau dijalanan, namun satu hal yang pasti bahwa skateboard tidak mewajibkan sebuah lapangan atau arena untuk menikmatinya, the pleasure of the creativity bisa kalian temukan di trotoar, di bangku-bangku jalanan kota, di tangga atau dimanapun semua bergantung bagaimana cara pandang kalian terhadap lingkungan kalian.
Hal Lainnya
Tulisan yang saya tulis diatas adalah murni sebuah perenungan dan bukanlah sebuah kewajiban bahwa skateboarder harus bermain dijalanan, saya tidak mengecilkan hati para individu-individu yang senang bermain di skatepark atau bowl, bahkan saya sendiri sebagai penulis hanya bisa bermain bowl. Saya juga mengerti bahwa beberapa skateboarder enggan atau malas menghadapi beberapa hal yang tak terduga saat bermain skateboard di jalanan, perkelahian atau adu mulut dengan pengguna jalan atau yang lebih parah lagi misalnya penyitaan skateboard oleh aparat karena dari kacamata aparat skateboard merusak fasilitas umum dan menganggu kenyamanan publik seperti apa yang terjadi pada kawan-kawan skateboarder skatepark kartini yang sedang check spot di sekitar monumen perjuangan, setelah papan skateboard mereka disita mereka harus mengeluarkan pundi-pundi rupiah untuk mengambil kembali papan mereka (saya akan bahas hal tersebut di tulisan lainnya), atau yang baru terjadi para skateboarder di Lhokseumawe yang digelandang oleh Satpol PP karena bermain di trotoar jalanan. Hal tersebut membawa saya menuju perenungan lainnya dimana beberapa hari lalu saya melihat postingan istagram salah satu skatepark milik swasta di Bandung Raya harus tutup.
Entah apa yang membuat pihak pengelola memilih menutup skatepark yang saya yakin menelan biaya pembangunan tak murah tersebut, biaya operasional yang mahal? Kurangnya peminat? Atau mungkin sesederhana pengelola memiliki sudut pandang bahwa tanah sebesar itu akan lebih berharga dialih fungsikan menjadi sebuah usaha yang memiliki perputaran uang lebih cepat daripada sebuah skatepark. Sebenarnya bukan urusan saya karena saya tidak akan membahas mengapa pengelola akan menutupnya.
Ada hal yang lebih menarik untuk dibahas bagi saya, setelah membaca komentar dan melihat interaksi pengguna sosial media terhadap postingan tersebut saya jadi berpikir mengapa kita harus merasa sedih akan keputusan penutupan skatepark ini? Saya mengerti perasaan kawan-kawan yang “suka” bermain disana dan tidak bermaksud mengecilkan perasaan mereka, namun bagi saya ini adalah masalah yang berbeda dari sekedar bersedih karena skatepark favoritnya terpaksa ditutup.
Bagi saya, permasalahan mengapa kita bisa sedih melihat kondisi tersebut tidak lepas dari andil kurangnya tempat untuk kawan-kawan yang suka bermain skateboard di bowl, hal tersebut lebih kompleks lagi. Per hari tulisan ini saya tulis (22/04/26) saya bisa mengingat setidaknya ada tujuh skatepark publik yang dibangun pemerintah di Bandung Raya, namun berapa skatepark yang memiliki bowl? Pertanyaan lebih dalam lagi, berapa skatepark yang sudah memang proper?
Skatepark yang proper harus dilihat sebagai fasilitas publik yang memang disediakan oleh pemerintah sebagai salah satu sarana bagi masyarakat, jika hal tersebut sudah terjalankan dengan baik saya rasa para skateboarder tidak akan pergi ke skatepark swasta dan akan lebih menjalankan fungsi sosial tempat tersebut. Hal fungsi sosial juga cukup menarik karena saya secara analisis gembel melihat jika pemerintah membangun taman atau bahkan skatepark sebagai pemenuhan fungsi estetika.
Pemenuhan fungsi estetika tanpa fungsi sosial akan membuat ruang publik seperti taman, skatepark dan tempat-tempat lainya hanya menjadi cantik tanpa mempunyai jiwa, masyarakat akan kehilangan sense of belongins terhadap tempat tersebut dan akan hanya berakhir di postingan instagram para pejabat tanpa fungsional yang baik bagi masyarakat. Dalam konteks skateboard, skateboarder mungkin saja bisa kehilangan tempat menuangkan kreativitasnya seperti apa yang terjadi hari ini