Outlaw SkateboardsOutlaw Skateboards
  • COLLABORATION
    • GxUxTxS
    • MATERNAL DISASTER
  • SHOP
    • SKATEBOARDS
      • DECK
    • APPAREL
      • T-SHIRTS
      • JACKETS
      • SWEATSHIRTS
    • BAGS
    • HEADWEAR
      • BEANIE
      • HAT
    • ACCESSORIES
      • MISC
      • SOCKS
      • PINS
  • TEAM
  • WHERE TO BUY
  • ADS
  • NEWS
  • CONTACT

MUNTAH : THE CITY THAT HATE SKATEBOARD

  • Muntah, News
  • August 13, 2026
muntah - template web pic_landscape 1

Berjalan di pusat kota mana pun hari ini, kita akan mudah menemukan pemandangan yang sama yaitu bangku taman, ledge, stairs. Elemen-elemen kecil ini jarang disadari memiliki fungsi lain oleh kebanyakan orang, tapi bagi skateboarder, mereka adalah ruangan bermain yang sangat jelas dan akrab dipanggil spot. Disisi lain, para skateboarder menyadari desain yang hadir terkadang dirancang secara khusus untuk menjauhkan elemen tersebut dari para skateboarder. Perangkat bernama skate stopper ini, bersama larangan bermain skateboard di ruang publik, mengungkap sesuatu yang lebih besar daripada sekadar tata kota, ia mencerminkan bagaimana kota-kota modern memandang siapa yang berhak menggunakan ruang bersama, dan siapa yang dianggap sebagai gangguan.

Infrastruktur yang Dirancang untuk Mengusir

Skate stopper biasanya berbentuk potongan logam kecil yang dipasang table, ledge, atau chair. Fungsinya sederhana yaitu mencegah skateboard bermain di permukaan tersebut. Alat ini murah untuk dipasang, hampir tidak terlihat oleh pengguna ruang publik lainnya, dan sangat efektif menghalangi skateboarder. Karena itulah pemerintah kota dan pengelola properti swasta menyukainya, ini adalah sebuah metafora untuk kalimat “ia menyelesaikan masalah tanpa perlu berdialog dengan komunitas yang terdampak”.

Namun di balik kepraktisannya, skate stopper adalah bentuk nyata dari apa yang disebut para ahli tata kota sebagai hostile architecture yaitu desain ruang publik yang sengaja dibuat untuk membatasi perilaku tertentu. Konsep yang sama juga terlihat (seringnya di luar negeri) pada sandaran tangan di tengah bangku panjang (untuk mencegah orang tidur di sana) atau paku-paku logam di lantai bawah jendela toko (untuk mengusir tunawisma). Skateboarder, dalam hal ini, dikelompokkan bersama kelompok-kelompok lain yang dianggap “tidak diinginkan” di ruang publik, meski aktivitas mereka jauh dari kriminal.

Mengapa Skateboard Dianggap Ancaman?

Ada beberapa alasan mengapa kota cenderung memusuhi skateboard. Pertama, kekhawatiran soal kerusakan properti, gesekan wheels dan trik grind memang bisa meninggalkan bekas pada permukaan marmer atau beton yang halus. Kedua, isu keselamatan, baik bagi skateboarder sendiri maupun pejalan kaki di sekitarnya, terutama di area yang ramai. Ketiga, dan mungkin yang paling mendasar, adalah persoalan citra karena skateboarding sejak dekade 1980-an dikaitkan dengan budaya jalanan, pembangkangan, dan kelompok remaja yang dianggap tidak mematuhi aturan sosial. Bagi banyak perencana kota, skateboarder bukanlah “pengguna ideal” ruang publik yang mereka bayangkan, patuh. Mereka membayangkan pejalan kaki yang tertib, bukan anak muda yang meluncur cepat sambil melompati pagar.

Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, alasan-alasan ini sering kali dibesar-besarkan. Kerusakan yang ditimbulkan skateboard umumnya kosmetik dan bisa dicegah dengan desain yang baik dan pembangunan yang tidak memanfaatkan pembangunan sebagai ladang mencari surplus (korupsi), bukan larangan total. Kekhawatiran keselamatan juga bisa diatasi lewat pemisahan ruang, bukan penghapusan aktivitas sepenuhnya. Yang tersisa kemudian adalah bias terhadap stigma terhadapa scene dan penampilan skateboarder itu sendiri.

muntah - template web pic_landscape 2

Ironi dari Ruang yang “Diciptakan” untuk Skateboard

Ironisnya, arsitektur perkotaan modern dengan tangga lebar, tepian marmer, dan permukaan beton yang mulus justru menciptakan lanskap yang sangat menggoda bagi skateboarder. Bangunan pemerintah, kampus, dan plaza perkantoran sering kali secara tidak sengaja menjadi taman bermain sempurna karena desainnya yang minimalis dan terbuka. Kota membangun ruang-ruang ini untuk tujuan lain, lalu terkejut ketika skateboarder memanfaatkannya, dan meresponsnya bukan dengan menyediakan alternatif, melainkan dengan memasang skate stopper atau memasang papan “Dilarang Skateboard” di mana-mana.

Di sinilah letak masalah sesungguhnya: kota jarang menyediakan ruang  yang memadai. Skatepark sering ditempatkan dengan fasilitas seadanya, dan jumlahnya jauh dari cukup dibanding jumlah peminatnya. Mungkin hal tersebut yang mengakibatkan, skateboarder tetap kembali ke ruang publik, bukan karena ingin melanggar aturan, tetapi karena tidak ada pilihan lain yang layak.

Menuju Kota yang Lebih Inklusif

Beberapa kota mulai mengubah pendekatan ini. Alih-alih memusuhi skateboard, mereka merangkulnya sebagai bagian sah dari kehidupan urban. Membangun skatepark berkualitas di lokasi strategis, melibatkan komunitas skateboarder dalam perencanaan ruang publik, bahkan merancang plaza yang secara sengaja ramah bagi skateboarder tanpa mengorbankan kenyamanan pengguna lain. Pendekatan ini mengakui bahwa ruang publik seharusnya mengakomodasi keberagaman aktivitas manusia, bukan hanya versi yang paling “rapi” dan mudah dikendalikan.

Skate stopper dan larangan skateboard pada akhirnya, adalah wajah para pengatur kota terhadap fungsi sosial ruang publik, apakah ruang publik dirancang untuk melayani semua orang? Atau hanya untuk mereka yang dianggap sesuai dengan citra ideal kota. Ketika sebuah kota memilih memasang logam kecil di atas bangku daripada membangun kota yang layak bagi semua, ia sebenarnya sedang menentukan tentang siapa yang dianggap layak menikmati kotanya sendiri.


Previous articleSK8SA CORET#5Next article MUNTAH : T-Shirt Pre-Order

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Categories

  • Art (16)
  • Collaboration (2)
  • Essay (3)
  • Event (9)
  • Gigs (5)
  • Interview (3)
  • Muntah (14)
  • Music (4)
  • News (51)
  • Others (18)
  • Review (1)
  • Skateshop (2)
  • Video (9)

Tags

Art Article artwork Bangkawarah Bloodbath Bowl Jam Circle Power Collaboration Consumed coratcoret Essay Etaks Store Fanzine Forever Outlaw Grimloc Records Guts GxUxTxS Hardcore/Punk HC/Punk Information Interview Logo Magazine Muntah Music Ogrok Outlaw Forever Outlaw Skateboards Point Skateshop Push and Roast Razor13 Review Skateboarding Skatecore Skatepiracy Skateshop Skate video Slowshutter Tattoo Timtimebroy Trashcore Type Unbaptised Zine Vast Store Video
©2026 Outlaw Skateboards.

Cart