MUNTAH : THE PLACE FREEDOM CALLS HOME
- Muntah, News
- June 28, 2026
Malam hari di sebuah trotoar pinggir jalan yang cukup luas, hamparan buku di jalanan menjadi salah satu yang tergeletak bersampingan dengan kopi hitam dan rokok murahan milik saya dan beberapa teman saya. Kami secara bergantian memberi pandangan terhadap buku yang sedang asyik kami baca seminggu ini, saat tiba di bagian seseorang yang aku lupa memberikan pandangannya mengenai buku berjudul 1984 karya George Orwell, pandangan salah satu temanku cukup menariK karena membahas sebuah konsep dari buku lainnya yang pernah ia baca.
Pandangan temanku berlabuh pada sebuah buku yang dirilis pada tahun 1991 oleh sebuah pemikir bernama Hakim Bey, dalam bukunya berjudul Temporary Autonomous Zone dijabarkan bagaimana konsep Temporary Autonomous Zone (Selanjutnya akan disebut TAZ) berjalan. TAZ secara sederhana merupakan sebuah ruang atau situasi sementara di mana sekelompok orang menciptakan otonomi dan kebebasan di luar kendali struktur kekuasaan yang biasa.
Hal ini menjadi menarik karena hal ini berjalan secara spontan di banyaknya circle para skateboarder, kebebasan sementara yang hadir di setiap skatepark atau lingkaran kecil para skater yang bermain di trotoar jalanan merupakan salah satu faktor mengapa skateboard lekat dengan bebas atau kebebasan (jika diterjemahkan menuju kacamata otoritas: menganggu ketertiban, ilegalis, atau urakan). Konsep TAZ yang dijabarkan Hakim Bey juga memperjelas bagaimana skateboarder dapat menjadi egaliter dalam lingkarannya sendiri karena tidak ada feodal atau sistem sosial yang hadir dalam lingkaran tersebut, mereka menciptakan sendiri otonomi atau kebebasan sementara mereka.
Hakim Bey meskipun selalu disinggung namanya dengan pemikiran-pemikiran Anarkis, ia menjelaskan juga bahwa konsep TAZ sejatinya bukanlah suatu upaya untuk memperebutkan suatu kekuasaan negara atau pemerintahan, itu semua terlalu jauh. TAZ hadir secara sementara untuk menciptakan momen-momen kebebasan yang nyata dan terasa secara langsung dalam sistem yang menindas, jika dikaitkan dengan konteks yang kita bahas hari ini para skateboarder menciptakan sendiri kesenangannya melalui otoritas atau kebebasan yang mereka bangun sementara ditengah-tengah penindasan oleh negara terjadi: BBM naik, brutalitas aparat, kebijakan yang tidak memihak rakyat dan lain-lain.
Bagaimana para skater sering merebut ruang publik yang tidak dirancang untuk bermain skateboard juga merupakan sebuah resisten sementara yang nyata, mereka merubah atau memberikan nilai fungsi yang baru bagi tempat tersebut, merebutnya dari nilai-nilai “biasa” yang berlaku menjadi kanvas untuk kreativasnya secara sementara. Selama mereka berekspresi disana, mereka menciptakan ruang otonom dan menggeser fungsi ruang publik dengan definisi usang ke sebuah kreativitas sementara.
Mungkin bagi para pembaca, keterhubungan TAZ dengan skateboarder ini merupakan hal yang terlalu dipaksakan atau sebuah cocoklogi karena para skater sejatinya hanya ingin bersenang-senang? hal tersebut bukanlah suatu masalah karena semua orang boleh mendefinisikan apa yang mereka lakukan. Namun perlu digaris bawahi, bahwa semua yang kita lakukan pasti ada sebuah penjelasannya.